Dinkes Jatim Kampanyekan Gerakan Bude Jamu

2020-08-30 22:09:32 || Sudah dibaca sebanyak : 158X

Dinkes Jatim Kampanyekan Gerakan Bude Jamu

 

Sesuai dengan amanah dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengkampanyekan Gerakan “Bude Jamu” (Bugar dengan Jamu), Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur berupaya berperan aktif dalam penyebaran informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan jamu yang aman, bermutu dan bermanfaat dalam menjaga imunitas dan kebugaran tubuh, salah satunya melalui Pertemuan  Koordinasi dalam rangka Upaya Promotif dan Preventif Kesehatan dengan Gerakan Bude Jamu (Bugar dengan Jamu) Tahun 2020 yang dilakukan secara daring, Selasa (25/08).

Pertemuan yang diikuti oleh 80 orang Petugas/ Kader Kesehatan ini bertujuan untuk menciptakan komitmen bersama dalam melestarikan budaya minum jamu mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dan masyarakat. Selain itu, seluruh komponen (Akademisi/ Peneliti, Pelaku Usaha, Pemerintah dan Masyarakat/ Pengguna) juga diharapkan akan menyepakati untuk saling bersinergi mendukung dan mendorong pengembangan obat tradisional termasuk jamu yang berada di Jawa Timur, serta dapat membantu mendorong pemanfaatan obat tradisonal (jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka) dapat memiliki peran penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas), memelihara kesehatan dan kebugaran, terutama dalam menghadapi pandemi COVID-19 saat ini.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dr. Herlin Ferliana, M.Kes. dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, M. Yoto, SKM., M.Kes. menerangkan bahwa saat ini tercatat, sekitar 47.000 tanaman obat di Indonesia.

“Dari 47.000 tanaman obat tradisional, terdapat 2.000 hingga 5.000 tanaman yang dapat digunakan dalam bidang kesehatan. Produk tanaman obat tradisional tersebut  dibedakan menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah jamu, hingga saat ini terdapat 10.000 jamu teregistrasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kedua, Obat Herbal Terstandar (OHT), artinya obat tradisional yang sudah dibuktikan secara subklinis dan ilmiah, dan yang ketiga Fitofarmaka, artinya obat tradisional yang sudah diuji ilmiah secara klinik ke manusia.

Saat ini jamu telah mengalami revolusi baik dari sisi bentuk sediaan maupun manfaat/ khasiatnya. Jamu tidak lagi hanya digunakan oleh masyarakat pedesaan dan tidak lagi dianggap sebagai minuman masyarakat kelas menengah ke bawah. Dalam pengembangan obat tradisional, jamu yang dikenal masyarakat berupa ramuan bahan tumbuhan obat yang dibuat/ diproduksi secara sederhana dan pahit rasanya, namun saat ini jamu dapat dinikmati semua kalangan dalam bentuk sediaan yang sangat praktis, enak, berkhasiat dan merupakan bagian dari gaya hidup.

Selain itu, jamu merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang telah diwariskan secara turun temurun dan  dikembangkan dari generasi ke generasi, sehingga menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi, memberikan manfaat dan menjadi kebanggaan sebagai bagian dari identitas bangsa. Jamu memiliki 3 (tiga) dimensi manfaat yaitu kesehatan, ekonomi dan sosial budaya.

Pada pertemuan tersebut disampaikan materi tentang Melalui Gerakan Bude Jamu (Bugar dengan Jamu) untuk meningkatkan Imunitas di Era New Normal yang disampaikan oleh Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian Ditjen Farmalkes Kemkes RI dan materi tentang cara memproduksi jamu yang aman, bermutu, dan bermanfaat untuk kesehatan dan kebugaran di Era New Normal yang disampaikan oleh Dosen Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dra. Lilik Hermanu, Apt., M.Si.

Setelah pertemuan tersebut, para peserta diharapkan mampu memproduksi jamu yang aman, bermutu dan bermanfaat, menjadikan jamu sebagai pilihan utama untuk menjaga kesehatan keluarga, menggerakan seluruh elemen masyarakat sekitar untuk melestarikan budaya minum jamu, melestarikan budaya minum jamu untuk memelihara kesehatan dan kebugaran, sekaligus meningkatkan ekonomi rakyat serta mampu menanam sendiri (budidaya) bahan baku untuk jamu di lingkungan sekitar.

  

  

link materi Bude Jamu