Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Raih POD Prevention of Disability Award

2012-09-03 21:13:27 || Sudah dibaca sebanyak : 1180X
Julaekah Umorul Asadah, SKM (dua dari kanan) bersama tim Pemberantasan Penyakit Kusta dari Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (dari kiri ke kanan) Priyo Santoso, SKM, M.Kes, Sulistheo Wibowo, SKM, dan Sumarsono, SKM, Surabaya. Kamis (16/8)

SURABAYA- Julaekah Umorul Asadah, SKM meraih penghargaan POD (Prevention of Disability) sebagai wakil supervisor kusta terbaik se-Indonesia untuk kategori provinsi. Jawa Timur merupakan satu-satunya provinsi yang mendapatkan penghargaan POD se-Indonesia dalam program pencegahan kecacatan penderita kusta di tingkat provinsi.

Penghargaan POD atau biasa disebut POD Award yang diselenggarakan sejak tahun 2011, merupakan wujud apresiasi Subdit Kusta dan Frambusia Kementrian Kesehatan Indonesia serta Netherlands Leprosy Relief (NLR) bagi petugas dan wakil supervisor kusta yang mampu melaksanakan program pencegahan kecacatan pada penderita kusta dengan baik. Penghargaan ini digolongkan menjadi tiga kategori yaitu tingkat provinsi, kabupaten dan puskesmas. Kabupaten yang berhasil mendapatkan POD Award adalah Kabupaten Subang, Kabupaten Minahasa, dan Kabupaten Muara Enim. Sedangkan penghargaan untuk kategori puskesmas diraih oleh Puskesmas Hamadi (Jayapura), Puskesmas Pauh Kambar (Padang Pariaman), dan Puskesmas Muara Batu (Aceh Utara).

“Saya sendiri tidak menduga bisa mendapatkan penghargaan ini. Pasalnya, dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tidak mengirimkan nama-nama untuk dinominasikan. Tiba-tiba pusat (Kementrian Kesehatan Indonesia) memberitahukan pemenangnya adalah Provinsi Jawa Timur atas nama saya,” ungkap Ibu Julaekah terkejut.

Sulistheo Wibowo, SKM selaku tim Pemberantasan Penyakit Kusta Provinsi Jawa Timur menambahkan pula, keberhasilan Jawa Timur meraih POD Award kemungkinan besar dikarenakan adanya Kelompok Perawatan Diri (KPD) yang dirintis oleh Jawa Timur. KPD adalah  kelompok yang didirikan untuk mencegah agar penderita kusta tidak cacat dan untuk menghilangkan stigma masyarakat terhadap penderita kusta. Dengan adanya KPD, petugas puskesmas lebih mudah menemukan orang yang menderita penyakit kusta secara dini. Akhirnya, penanganan penyakit kusta dapat dilakukan sesegera mungkin sehingga kecacatan bisa dihindari. Ada 14 kabupaten di Jawa Timur yang telah mendirikan KPD, yaitu Kabupaten Jember, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Blitar, Lamongan, Madiun, Ngawi, Gresik, Bangkalan, Sampang, Bojonegoro, dan Lumajang. Umumnya, KPD didirikan di pedesaan sebab kecenderungan stigma terhadap penderita kusta dan mantan penderita kusta lebih besar daripada di perkotaan.

Lebih lanjut, Julaekah menjelaskan alasan mengapa tidak semua kabupaten mendirikan kelompok tersebut. “KPD ada atas keinginan bersama antar penderita dan petugas pengelola program kusta dari puskesmas. Tidak semua pasien siap membentuk kelompok ini dan tidak semua petugas puskesmas bersedia. Harus ada komitmen yang kuat dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah kecacatan penderita kusta dan masalah sosial ekonomi yang timbul akibat kusta lewat kelompok ini. Selain itu, dukungan keluarga dan masyarakat juga diperlukan,” ujarnya.

Kegiatan yang dilakukan selama KPD, berfokus pada menumbuhkan kepercayaan diri penderita kusta bahwa penyakit kusta bisa disembuhkan dan tidak akan menghalangi mereka untuk berkarya, melalui sharing dan saling memotivasi antar anggota.  Bahkan, tim Pemberantasan Penyakit Kusta memberikan hadiah bagi ketua KPD yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan keaktifan anggotanya, yaitu menjadi motivator bagi KPD lainnya supaya dapat mengikuti jejak keberhasilannya. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur juga memberikan penghargaan kepada KPD terbaik di Jawa Timur guna menumbuhkan semangat bagi para anggota kelompok agar semakin gencar memerangi penyakit kusta. “Tahun 2011 yang lalu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan bagi puskesmas dengan KPD terbaik. Juara 1 diraih oleh Puskesmas Grati (Pasuruan) dan juara 2 diraih oleh Puskesmas Balerejo (Madiun),” pungkas Julaekah.

Selain melalui pembentukan KPD, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tengah gencar mengadakan sosialisasi ke seluruh kabupaten di Jawa Timur untuk menyelesaikan masalah penyakit kusta. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur juga menjalin kerja sama dengan Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja untuk memperjuangkan hak penderita kusta yang cacat agar mendapatkan perlakuan yang sama seperti masyarakat pada umumnya. “Berapa banyak pekerja yang dipecat oleh perusahaan karena menderita kusta dan cacat? Berapa banyak siswa dan guru yang dikeluarkan oleh sekolah karena takut tertular penyakit kusta? Lewat program pemberantasan penyakit kusta ini diharapkan agar jangan sampai ada penderita kusta yang cacat. Dan juga, supaya stigma masyarakat terhadap penderita kusta bisa hilang. Di samping itu, bagi penderita kusta yang sudah menderita kecacatan, diharapkan program ini bisa menumbuhkan semangat dan membuat mereka optimis untuk berjuang di masyarakat,” kata Ibu Jualekah.

Ibu Julaekah juga berpesan bagi penderita kusta di Indonesia agar percaya bahwa penyakit kusta dapat disembuhkan. “Harus optimis dan jangan malu. Penyakit kusta bukan halangan untuk berprestasi dan berkarya,” ujarnya bersemangat.


LAKIP


CACAK